رَّبُّ ٱلسَّمَـٰوَٲتِ وَٱلۡأَرۡضِ وَمَا بَيۡنَہُمَا فَٱعۡبُدۡهُ وَٱصۡطَبِرۡ لِعِبَـٰدَتِهِۦۚ هَلۡ تَعۡلَمُ لَهُ ۥ سَمِيًّ۬ا (
٦٥
Tuhan [yang menguasai] langit dan bumi dan apa-apa yang ada di antara keduanya, maka sembahlah Dia dan berteguh hatilah dalam beribadat kepada-Nya. Apakah kamu mengetahui ada seorang yang sama dengan Dia [yang patut disembah]? (S. Maryam ayat 65)
Itulah sepotong ayat yang kebetulan dibahas semalam dalam pengajian di masjid dekat rumah. Ada sepotong kata dalam surat itu yang menggugah hati, yaitu وَٱصۡطَبِرۡ لِعِبَـٰدَتِهِ.
Washthobir li'ibadatih... berteguh hatilah dalam beribadat padaNYA atau dengan arti lain dan bersabarlah dalam beribadah padaNYA.
Seakan terasa aneh, dikatakan Alloh menguasai segenap langit dan bumi, termasuk segala sesuatu yang ada didalamnya. Dan kita diperintahkan untuk beribadah padaNYA.Akan tetapi kita disuruh bersabar dan meneguhkan hati dalam beribadah...kalau memakai logika kita yang terbatas ini, jika Tuhan Maha Perkasa, kenapa juga DIA suruh kita beribadah, sekaligus disuruh sabar dalam menjalankannya. Apakah Alloh tidak menjaga kita, sehingga jika kita menghadapi masalah dalam beribadat padaNYA, kita bisa terjerumus tanpa ada yang membantu?
Sejatinya, hidup ini adalah ujian. Dalam hidup kita silih berganti merasakan kenikmatan dan penderitaan. Bukankah keduanya adalah cobaan, bukan hanya penderitaan, kenikmatan yang kita rasakan juga merupakan ujian. Harta benda, jabatan, pendidikan tinggi, kekayaan, kehormatan, istri, suami, anak semuanya adalah cobaan dan ujian bagi kita. Adakah kita tetap istiqomah, teguh, tetap beribadah padaNYA? Bukankah kita diciptakan olehNYA, memang untuk beribadah padanya? Wa ma kholaqtul jinna wal insa illa liya'buduni....tidak AKU jadikan jin dan manusia kecuali untuk beribadah padaKU..
Sabar tidak berarti "nrimo" dalam arti pasif. Jangan artikan sabar sebagai penerimaan yang tidak ada lagi daya upaya , ikhtiar, perjuangan untuk mengatasi ujian dan cobaan yang kita alami. Sabar untuk mencapai kenikmatan nan abadi, jannatul firdaus, harus diperjuangkan dengan segala daya. Sudah pasti, Alloh akan mencoba hambaNYA sebelum si hamba dipersilakan memasuki surga yang diwariskan bagi hambaNYA yang taqwa.
Bukankah menahan godaan untuk menjadi cepat kaya, lewat jalan yang bathil adalah sebuah cobaan? Bukankah jabatan dan kekuasaan yang kita miliki juga merupakan amanah yang harus dijaga, dan menjaga amanah itu juga suatu ujian yang berat?
Bukankah anak yang diamanahkan Alloh kepada kita juga suatu bentuk amanah yang harus dijaga, dan diperjuangkan agar kelak mereka menjadi insan yang lebih baik dari kedua orang tuanya, generasi yang lebih cerdas, teguh keimanannya, pemimpin umat dan sehingga menjadi generasi yang dicintai dan diridhoi Tuhannya
Seperti kata pujangga, bukankah piala dihasilkan dari logam yang dipanaskan hingga lumat, cair dan kemudian ditempa, digosok dan disikat sehingga menjadi sebuah piala.
Setelah semua dapat dilalui dengan baik, pastilah Alloh akan mempersilakan kita memamsuki surga yang memang disediakan bagi hambaNYA yang lulus menempuh ujian dan cobaan di dunia.
يَـٰٓأَيَّتُہَا ٱلنَّفۡسُ ٱلۡمُطۡمَٮِٕنَّةُ (٢٧) ٱرۡجِعِىٓ إِلَىٰ رَبِّكِ رَاضِيَةً۬ مَّرۡضِيَّةً۬ (٢٨) فَٱدۡخُلِى فِى عِبَـٰدِى (٢٩) وَٱدۡخُلِى جَنَّتِى (٣٠)
Hai jiwa yang tenang. (27) Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. (28) Maka masuklah ke dalam jama’ah hamba-hamba-Ku, (29) dan masuklah ke dalam surga-Ku. (30)
(S.Fajr)
Cuma sekarang pertanyaannya, apa hubungannya dengan judul diatas?
Jawabannya tidak ada sama sekali, lah wong saya cuma mau tulis judul se enaknya aja. Kebetulan pagi ini, saya jalan-jalan pagi dengan istri tercinta, sambil pake iPod mendengarkan alunan lagu Blues, tapi bunderan deket komplek dimana saya tinggal menyetel lagu dangdut dengan speaker keras keras. Sehingga Blues tercampur dengan Dangdut..... rasanya kayak Es Doger, ada manis, asem, dingin dan gurih.
Wassalam
Jumat, 21 Januari 2011
Kamis, 20 Januari 2011
Manfaat Sirsak
Sirsak buah yang bernama latin Annona Muricata, di kenal juga dengan nama nangka sabrang, nangka londo, nangka buris, dan di Bali lebih dikenali sebagai srikaya Jawa. Di LN dikenal juga dengan nama Soursop. Selain lezat, buah ini juga kaya kandungan obat.
Khasiat dari buah sirsak ini memberikan effek anti tumor/kanker yang sangat kuat,dan terbukti secara medis menyembuhkan segala jenis kanker.Selain menyembuhkan kanker, buah sirsak juga berfungsi sebagai anti bakteri,anti jamur(fungi),effektive melawan berbagai jenis parasit/cacing, menurunkan tekanan darah tinggi, depresi, stress, dan menormalkan kembali sistim syaraf yang kurang baik.
Rasanya yang manis keasaman itu memberikan sensasi tersendiri bagi para penggemarnya. Bagi yang senang sarapan dengan roti, buah sirsak juga sering ditambahkan dalam bentuk selai. Apapun bentuk olahannya, cita rasa sirsak tetap melekat kuat pada produk, sehingga sangat mudah dikenali.
Adapun kandungan dari buah sirsak adalah sbb:
Kaya Vitamin C
Buah sirsak terdiri dari 67,5 persen daging buah, 20 persen kulit buah, 8,5 persen biji buah, dan 4 persen inti buah.
Setelah air, kandungan zat gizi yang terbanyak dalam sirsak adalah karbohidrat. Salah satu jenis karbohidrat pada buah sirsak adalah gula pereduksi (glukosa dan fruktosa) dengan kadar 81,9 – 93,6 persen dari kandungan gula total.
Buah sirsak mengandung sangat sedikit lemak (0,3 g/100 g), sehingga sangat baik untuk kesehatan. Rasa asam pada sirsak berasal dari asam organik non volatil, terutama asam malat, asam sitrat, dan asam isositrat.
Vitamin yang paling dominan pada buah sirsak adalah vitamin C, yaitu sekitar 20 mg per 100 gram daging buah. Kebutuhan vitamin C per orang per hari (yaitu 60 mg), telah dapat dipenuhi hanya dengan mengkonsumsi 300 gram daging buah sirsak. Kandungan vitamin C yang cukup tinggi pada sirsak merupakan antioksidan yang sangat baik untuk meningkatkan daya tahan tubuh dan memperlambat proses penuaan (tetap awet muda).
Mineral yang cukup dominan adalah fosfor dan kalsium, masing-masing sebesar 27 dan 14 mg/100 g. Kedua mineral tersebut penting untuk pembentukan massa tulang, sehingga berguna untuk membentuk tulang yang kuat serta menghambat osteoporosis.
Keunggulan sirsak terletak pada kadar sodium (natrium) yang rendah (14 mg/100 g) tetapi tinggi potasium (kalium), yaitu 278 mg/l00 g. Perbandingan kalium dan natrium yang tinggi sangat menguntungkan dalam rangka pencegahan penyakit hipertensi.
Kaya Serat
Selain komponen gizi, buah sirsak juga sangat kaya akan komponen non gizi. Salah satu diantaranya adalah mengandung banyak serat pangan (dietary fiber), yaitu mencapai 3,3 g/ 100 g daging buah.
Konsumsi 100 g daging buah dapat memenuhi 13 persen kebutuhan serat pangan sehari. Buah sirsak merupakan buah yang kaya akan senyawa fitokimia, sehingga dapat dipastikan bahwa buah tersebut sangat banyak manfaatnya bagi kesehatan.
Senyawa fitokimia tersebut dipastikan memiliki khasiat bagi kesehatan, walaupun belum semuanya terbukti secara ilmiah. Berbagai manfaat sirsak untuk terapi antara lain pengobatan batu empedu, antisembelit, asam urat, dan meningkatkan selera makan. Selain itu, kandungan seratnya juga berfungsi untuk memperlancar pencernaan, terutama untuk pengobatan sembelit (susah buang air besar).
Sari buah (jus) sirsak di dalam sistem pencernaan akan meningkatkan selera makan. Kegunaan lain dari sari buah ini adalah untuk pengobatan pinggang pegal dan nyeri, penyakit wasir (ambeien), batu empedu, dan lain-lain. (Oleh: Prof. DR. Made Astawan, Ahli Teknologi Pangan dan Gizi/ http://kompas.com/ver1/Kesehatan/0608/15/161830.htm)
Berikut rangkuman kegunaan sirsak :
Sirsak mempunyai manfaat yang sangat besar dalam pencegahan dan penyembuhan penyakit kanker. Untuk pencegahan, disarankan makan atau minum jus buah sirsak.
Untuk penyembuhan, bisa dengan merebus 10 buah daun sirsak
yang sudah tua (warna hijau tua) ke dalam 3 gelas air dan
direbus terus hingga menguap dan air tinggal 1 gelas saja.
Air yang tinggal 1 gelas dimimumkan ke penderita setiap
hari 2 kali.
Setelah minum, efeknya katanya badan terasa panas, mirip
dengan efek kemoterapi. Dalam waktu 2 minggu, hasilnya bisa dicek ke dokter,katanya cukup berkasiat.
Daun sirsak ini katanya sifatnya seperti kemoterapi, bahkan
lebih hebat lagi karena daun sirsak hanya membunuh sel sel
yang tumbuh abnormal dan membiarkan sel sel yang tumbuh
normal. Sedangkan kemoterapi masih ada efek membunuh juga
sebagian sel sel yang normal. http://forum.vibizportal.com
2. Khasiat dan manfaat untuk pengobatan lainnya:
* Ambeien.
Buah sirsak yang sudah masak. Peras untuk diambil airnya sebanyak 1 gelas, diminum 2 kali sehari, pagi dan sore.
* Sakit Kandung Air Seni.
Buah sirsak setengah masak, gula dan garam secukupnya. Semua bahan tersebut dimasak dibuat kolak. Dimakan biasa, dan dilakukan secara rutin setiap hari selama 1 minggu berturut-turut.
* Bayi Mencret.
Buah-sirsak yang sudah masak. Buah sirsak diperas dan disaring untuk diambil airnya, diminumkan pada bayi yang mencret sebanyak 2-3 sendok makan.
* Anyang-anyangen.
Sirsak setengah masak dan gula pasir secukupnya. Sirsak dikupas dan direbus dengan gula bersama-sama dengan air sebanyak 2 gelas, disaring dan diminum.
* Sakit Pinggang.
20 lembar daun sirsak, direbus dengan 5 gelas air sampai mendidih hingga tinggal3 gelas, diminum 1 kali sehari 3/4 gelas.
*Bisul.
Daun sirsak yang masih muda secukupnya, tempelkan di tempat yang terkena bisul.
sumber: sini (http://sudarjanto.multiply.com/journal/item/6695)
Khasiat dari buah sirsak ini memberikan effek anti tumor/kanker yang sangat kuat,dan terbukti secara medis menyembuhkan segala jenis kanker.Selain menyembuhkan kanker, buah sirsak juga berfungsi sebagai anti bakteri,anti jamur(fungi),effektive melawan berbagai jenis parasit/cacing, menurunkan tekanan darah tinggi, depresi, stress, dan menormalkan kembali sistim syaraf yang kurang baik.
Rasanya yang manis keasaman itu memberikan sensasi tersendiri bagi para penggemarnya. Bagi yang senang sarapan dengan roti, buah sirsak juga sering ditambahkan dalam bentuk selai. Apapun bentuk olahannya, cita rasa sirsak tetap melekat kuat pada produk, sehingga sangat mudah dikenali.
Adapun kandungan dari buah sirsak adalah sbb:
Kaya Vitamin C
Buah sirsak terdiri dari 67,5 persen daging buah, 20 persen kulit buah, 8,5 persen biji buah, dan 4 persen inti buah.
Setelah air, kandungan zat gizi yang terbanyak dalam sirsak adalah karbohidrat. Salah satu jenis karbohidrat pada buah sirsak adalah gula pereduksi (glukosa dan fruktosa) dengan kadar 81,9 – 93,6 persen dari kandungan gula total.
Buah sirsak mengandung sangat sedikit lemak (0,3 g/100 g), sehingga sangat baik untuk kesehatan. Rasa asam pada sirsak berasal dari asam organik non volatil, terutama asam malat, asam sitrat, dan asam isositrat.
Vitamin yang paling dominan pada buah sirsak adalah vitamin C, yaitu sekitar 20 mg per 100 gram daging buah. Kebutuhan vitamin C per orang per hari (yaitu 60 mg), telah dapat dipenuhi hanya dengan mengkonsumsi 300 gram daging buah sirsak. Kandungan vitamin C yang cukup tinggi pada sirsak merupakan antioksidan yang sangat baik untuk meningkatkan daya tahan tubuh dan memperlambat proses penuaan (tetap awet muda).
Mineral yang cukup dominan adalah fosfor dan kalsium, masing-masing sebesar 27 dan 14 mg/100 g. Kedua mineral tersebut penting untuk pembentukan massa tulang, sehingga berguna untuk membentuk tulang yang kuat serta menghambat osteoporosis.
Keunggulan sirsak terletak pada kadar sodium (natrium) yang rendah (14 mg/100 g) tetapi tinggi potasium (kalium), yaitu 278 mg/l00 g. Perbandingan kalium dan natrium yang tinggi sangat menguntungkan dalam rangka pencegahan penyakit hipertensi.
Kaya Serat
Selain komponen gizi, buah sirsak juga sangat kaya akan komponen non gizi. Salah satu diantaranya adalah mengandung banyak serat pangan (dietary fiber), yaitu mencapai 3,3 g/ 100 g daging buah.
Konsumsi 100 g daging buah dapat memenuhi 13 persen kebutuhan serat pangan sehari. Buah sirsak merupakan buah yang kaya akan senyawa fitokimia, sehingga dapat dipastikan bahwa buah tersebut sangat banyak manfaatnya bagi kesehatan.
Senyawa fitokimia tersebut dipastikan memiliki khasiat bagi kesehatan, walaupun belum semuanya terbukti secara ilmiah. Berbagai manfaat sirsak untuk terapi antara lain pengobatan batu empedu, antisembelit, asam urat, dan meningkatkan selera makan. Selain itu, kandungan seratnya juga berfungsi untuk memperlancar pencernaan, terutama untuk pengobatan sembelit (susah buang air besar).
Sari buah (jus) sirsak di dalam sistem pencernaan akan meningkatkan selera makan. Kegunaan lain dari sari buah ini adalah untuk pengobatan pinggang pegal dan nyeri, penyakit wasir (ambeien), batu empedu, dan lain-lain. (Oleh: Prof. DR. Made Astawan, Ahli Teknologi Pangan dan Gizi/ http://kompas.com/ver1/Kesehatan/0608/15/161830.htm)
Berikut rangkuman kegunaan sirsak :
Sirsak mempunyai manfaat yang sangat besar dalam pencegahan dan penyembuhan penyakit kanker. Untuk pencegahan, disarankan makan atau minum jus buah sirsak.
Untuk penyembuhan, bisa dengan merebus 10 buah daun sirsak
yang sudah tua (warna hijau tua) ke dalam 3 gelas air dan
direbus terus hingga menguap dan air tinggal 1 gelas saja.
Air yang tinggal 1 gelas dimimumkan ke penderita setiap
hari 2 kali.
Setelah minum, efeknya katanya badan terasa panas, mirip
dengan efek kemoterapi. Dalam waktu 2 minggu, hasilnya bisa dicek ke dokter,katanya cukup berkasiat.
Daun sirsak ini katanya sifatnya seperti kemoterapi, bahkan
lebih hebat lagi karena daun sirsak hanya membunuh sel sel
yang tumbuh abnormal dan membiarkan sel sel yang tumbuh
normal. Sedangkan kemoterapi masih ada efek membunuh juga
sebagian sel sel yang normal. http://forum.vibizportal.com
2. Khasiat dan manfaat untuk pengobatan lainnya:
* Ambeien.
Buah sirsak yang sudah masak. Peras untuk diambil airnya sebanyak 1 gelas, diminum 2 kali sehari, pagi dan sore.
* Sakit Kandung Air Seni.
Buah sirsak setengah masak, gula dan garam secukupnya. Semua bahan tersebut dimasak dibuat kolak. Dimakan biasa, dan dilakukan secara rutin setiap hari selama 1 minggu berturut-turut.
* Bayi Mencret.
Buah-sirsak yang sudah masak. Buah sirsak diperas dan disaring untuk diambil airnya, diminumkan pada bayi yang mencret sebanyak 2-3 sendok makan.
* Anyang-anyangen.
Sirsak setengah masak dan gula pasir secukupnya. Sirsak dikupas dan direbus dengan gula bersama-sama dengan air sebanyak 2 gelas, disaring dan diminum.
* Sakit Pinggang.
20 lembar daun sirsak, direbus dengan 5 gelas air sampai mendidih hingga tinggal3 gelas, diminum 1 kali sehari 3/4 gelas.
*Bisul.
Daun sirsak yang masih muda secukupnya, tempelkan di tempat yang terkena bisul.
sumber: sini (http://sudarjanto.multiply.com/journal/item/6695)
Selasa, 04 Januari 2011
Memahami Arti Zuhud
Segala puji bagi Allah, Rabb pemberi berbagai nikmat. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga akhir zaman.
Sebagian orang salah paham dengan istilah zuhud. Dikira zuhud adalah hidup tanpa harta. Dikira zuhud adalah hidup miskin. Lalu apa yang dimaksud dengan zuhud yang sebenarnya? Semoga tulisan berikut bisa memberikan jawaban berarti.
Mengenai zuhud disebutkan dalam sebuah hadits,
عَنْ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ السَّاعِدِىِّ قَالَ أَتَى النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- رَجُلٌ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ دُلَّنِى عَلَى عَمَلٍ إِذَا أَنَا عَمِلْتُهُ أَحَبَّنِىَ اللَّهُ وَأَحَبَّنِىَ النَّاسُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « ازْهَدْ فِى الدُّنْيَا يُحِبَّكَ اللَّهُ وَازْهَدْ فِيمَا فِى أَيْدِى النَّاسِ يُحِبُّوكَ ».
Dari Sahl bin Sa’ad As Sa’idi, ia berkata ada seseorang yang mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas berkata, “Wahai Rasulullah, tunjukkanlah padaku suatu amalan yang apabila aku melakukannya, maka Allah akan mencintaiku dan begitu pula manusia.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Zuhudlah pada dunia, Allah akan mencintaimu. Zuhudlah pada apa yang ada di sisi manusia, manusia pun akan mencintaimu.” (HR. Ibnu Majah dan selainnya. An Nawawi mengatakan bahwa dikeluarkan dengan sanad yang hasan)
Dalam hadits di atas terdapat dua nasehat, yaitu untuk zuhud pada dunia, ini akan membuahkan kecintaan Allah, dan zuhud pada apa yang ada di sisi manusia, ini akan mendatangkan kecintaan manusia.[1]
Penyebutan Zuhud Terhadap Dunia dalam Al Qur’an dan Hadits
Masalah zuhud telah disebutkan dalam beberapa ayat dan hadits. Di antara ayat yang menyebutkan masalah zuhud adalah firman Allah Ta’ala tentang orang mukmin di kalangan keluarga Fir’aun yang mengatakan,
وَقَالَ الَّذِي آَمَنَ يَا قَوْمِ اتَّبِعُونِ أَهْدِكُمْ سَبِيلَ الرَّشَادِ (38) يَا قَوْمِ إِنَّمَا هَذِهِ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا مَتَاعٌ وَإِنَّ الْآَخِرَةَ هِيَ دَارُ الْقَرَارِ (39)
“Orang yang beriman itu berkata: “Hai kaumku, ikutilah aku, aku akan menunjukkan kepadamu jalan yang benar. Hai kaumku, sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah kesenangan (sementara) dan sesungguhnya akhirat itulah negeri yang kekal.” (QS. Ghafir: 38-39)
Dalam ayat lainnya, Allah Ta’ala berfirman,
بَلْ تُؤْثِرُونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا (16) وَالْآَخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَى (17)
“Tetapi kamu (orang-orang kafir) memilih kehidupan duniawi. Sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal.” (QS. Al A’laa: 16-17)
Mustaurid berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
وَاللَّهِ مَا الدُّنْيَا فِى الآخِرَةِ إِلاَّ مِثْلُ مَا يَجْعَلُ أَحَدُكُمْ إِصْبَعَهُ هَذِهِ – وَأَشَارَ يَحْيَى بِالسَّبَّابَةِ – فِى الْيَمِّ فَلْيَنْظُرْ بِمَ يَرْجِعُ
“Demi Allah, tidaklah dunia dibanding akhirat melainkan seperti jari salah seorang dari kalian yang dicelup -Yahya berisyarat dengan jari telunjuk- di lautan, maka perhatikanlah apa yang dibawa.” (HR. Muslim no. 2858)
Al Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah menjelaskan, “Dunia seperti air yang tersisa di jari ketika jari tersebut dicelup di lautan sedangkan akhirat adalah air yang masih tersisa di lautan.”[2] Bayangkanlah, perbandingan yang amat jauh antara kenikmatan dunia dan akhirat!
Dari Sahl bin Sa’ad, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لَوْ كَانَتِ الدُّنْيَا تَعْدِلُ عِنْدَ اللَّهِ جَنَاحَ بَعُوضَةٍ مَا سَقَى كَافِرًا مِنْهَا شَرْبَةَ مَاءٍ
“Seandainya harga dunia itu di sisi Allah sebanding dengan sayap nyamuk tentu Allah tidak mau memberi orang orang kafir walaupun hanya seteguk air.” (HR. Tirmidzi no. 2320. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)
Tiga Makna Zuhud Terhadap Dunia
Yang dimaksud dengan zuhud pada sesuatu –sebagaimana dijelaskan oleh Ibnu Rajab Al Hambali- adalah berpaling darinya dengan sedikit dalam memilikinya, menghinakan diri darinya serta membebaskan diri darinya.[3] Adapun mengenai zuhud terhadap dunia para ulama menyampaikan beberapa pengertian, di antaranya disampaikan oleh sahabat Abu Dzar.
Abu Dzar mengatakan,
الزَّهَادَةُ فِى الدُّنْيَا لَيْسَتْ بِتَحْرِيمِ الْحَلاَلِ وَلاَ إِضَاعَةِ الْمَالِ وَلَكِنَّ الزَّهَادَةَ فِى الدُّنْيَا أَنْ لاَ تَكُونَ بِمَا فِى يَدَيْكَ أَوْثَقَ مِمَّا فِى يَدَىِ اللَّهِ وَأَنْ تَكُونَ فِى ثَوَابِ الْمُصِيبَةِ إِذَا أَنْتَ أُصِبْتَ بِهَا أَرْغَبَ فِيهَا لَوْ أَنَّهَا أُبْقِيَتْ لَكَ
“Zuhud terhadap dunia bukan berarti mengharamkan yang halal dan bukan juga menyia-nyiakan harta. Akan tetapi zuhud terhadap dunia adalah engkau begitu yakin terhadapp apa yang ada di tangan Allah daripada apa yang ada di tanganmu. Zuhud juga berarti ketika engkau tertimpa musibah, engkau lebih mengharap pahala dari musibah tersebut daripada kembalinya dunia itu lagi padamu.”[4]
Yunus bin Maysaroh menambahkan pengertian zuhud yang disampaikan oleh Abu Dzar. Beliau menambahkan bahwa yang termasuk zuhud adalah, “Samanya pujian dan celaan ketika berada di atas kebenaran.”[5]
Ibnu Rajab Al Hambali rahimahullah mengatakan, “Zuhud terhadap dunia dalam riwayat di atas ditafsirkan dengan tiga hal, yang kesemuanya adalah amalan batin (amalan hati), bukan amalan lahiriyah (jawarih/anggota badan). Abu Sulaiman menyatakan, “Janganlah engkau mempersaksikan seorang pun dengan zuhud, karena zuhud sebenarnya adalah amalan hati.“[6]
Cobalah kita perhatikan penjelasan dari Ibnu Rajab Al Hambali rahimahullah terhadap tiga unsur dari pengertian zuhud yang telah disebutkan di atas.
Pertama: Zuhud adalah yakin bahwa apa yang ada di sisi Allah itu lebih diharap-harap dari apa yang ada di sisinya. Ini tentu saja dibangun di atas rasa yakin yang kokoh pada Allah. Oleh karena itu, Al Hasan Al Bashri menyatakan, “Yang menunjukkan lemahnya keyakinanmu, apa yang ada di sisimu (berupa harta dan lainnya –pen) lebih engkau harap dari apa yang ada di sisi Allah.”
Abu Hazim –seorang yang dikenal begitu zuhud- ditanya, “Apa saja hartamu?” Ia pun berkata, “Aku memiliki dua harta berharga yang membuatku tidak khawatir miskin: [1] rasa yakin pada Allah dan [2] tidak mengharap-harap apa yang ada di sisi manusia.”
Lanjut lagi, ada yang bertanya pada Abu Hazim, “Tidakkah engkau takut miskin?” Ia memberikan jawaban yang begitu mempesona, “Bagaimana aku takut miskin sedangkan Allah sebagai penolongku adalah pemilik segala apa yang ada di langit dan di bumi, bahkan apa yang ada di bawah gundukan tanah?!”
Al Fudhail bin ‘Iyadh mengatakan, “Hakikat zuhud adalah ridho pada Allah ‘azza wa jalla.” Ia pun berkata, “Sifat qona’ah, itulah zuhud. Itulah jiwa yang “ghoni”, yaitu selalu merasa cukup.”
Intinya, pengertian zuhud yang pertama adalah begitu yakin kepada Allah.
Kedua: Di antara bentuk zuhud adalah jika seorang hamba ditimpa musibah dalam hal dunia berupa hilangnya harta, anak atau selainnya, maka ia lebih mengharap pahala dari musibah tersebut daripada dunia tadi tetap ada. Ini tentu saja dibangun di atas rasa yakin yang sempurna.
Siapakah yang rela hartanya hilang, lalu ia lebih harap pahala?! Yang diharap ketika harta itu hilang adalah bagaimana bisa harta tersebut itu kembali, itulah yang dialami sebagian manusia. Namun Abu Dzar mengistilahkan zuhud dengan rasa yakin yang kokoh. Orang yang zuhud lebih berharap pahala dari musibah dunianya daripada mengharap dunia tadi tetap ada. Sungguh ini tentu saja dibangun atas dasar iman yang mantap.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hal ini telah mengajarkan do’a yang sangat bagus kandungannya, yaitu berisi permintaan rasa yakin agar begitu ringan menghadapi musibah. Do’a tersebut adalah,
اللَّهُمَّ اقْسِمْ لَنَا مِنْ خَشْيَتِكَ مَا يَحُولُ بَيْنَنَا وَبَيْنَ مَعَاصِيكَ وَمِنْ طَاعَتِكَ مَا تُبَلِّغُنَا بِهِ جَنَّتَكَ وَمِنَ الْيَقِينِ مَا تُهَوِّنُ بِهِ عَلَيْنَا مُصِيبَاتِ الدُّنْيَا
“Allaahummaqsim lanaa min khosy-yatika maa yahuulu bihii bainanaa wa baina ma’aashiika, wa min thoo’atika maa tuballighunaa bihi jannatak, wa minal yaqiini maa tuhawwinu bihi ‘alainaa mushiibaatid dunyaa” (Ya Allah, curahkanlah kepada kepada kami rasa takut kepadaMu yang menghalangi kami dari bermaksiat kepadaMu, dan ketaatan kepadaMu yang mengantarkan kami kepada SurgaMu, dan curahkanlah rasa yakin yang dapat meringankan berbagai musibah di dunia) (HR. Tirmidzi no. 3502. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan). Inilah di antara tanda zuhud, ia tidak begitu berharap dunia tetap ada ketika ia tertimpa musibah. Namun yang ia harap adalah pahala di sisi Allah.
‘Ali bin Abi Tholib pernah mengatakan, “Siapa yang zuhud terhadap dunia, maka ia akan semakin ringan menghadapi musibah.” Tentu saja yang dimaksud zuhud di sini adalah tidak mengharap dunia itu tetap ada ketika musibah dunia itu datang. Sekali lagi, sikap semacam ini tentu saja dimiliki oleh orang yang begitu yakin akan janji Allah di balik musibah.
Ketiga: Zuhud adalah keadaan seseorang ketika dipuji atau pun dicela dalam kebenaran itu sama saja. Inilah tanda seseorang begitu zuhud pada dunia, menganggap dunia hanya suatu yang rendahan saja, ia pun sedikit berharap dengan keistimewaan dunia. Sedangkan seseorang yang menganggap dunia begitu luar biasa, ia begitu mencari pujian dan benci pada celaan. Orang yang kondisinya sama ketika dipuji dan dicela dalam kebenaran, ini menunjukkan bahwa hatinya tidak mengistimewakan satu pun makhluk. Yang ia cinta adalah kebenaran dan yang ia cari adalah ridho Ar Rahman.
Orang yang zuhud selalu mengharap ridho Ar Rahman bukan mengharap-harap pujian manusia. Sebagaimana kata Ibnu Mas’ud, “Rasa yakin adalah seseorang tidak mencari ridho manusia, lalu mendatangkan murka Allah. Allah sungguh memuji orang yang berjuang di jalan Allah. Mereka sama sekali tidaklah takut pada celaan manusia.”
Al Hasan Al Bashri mengatakan, “Orang yang zuhud adalah yang melihat orang lain, lantas ia katakan, “Orang tersebut lebih baik dariku”. Ini menunjukkan bahwa hakekat zuhud adalah ia tidak menganggap dirinya lebih dari yang lain. Hal ini termasuk dalam pengertian zuhud yang ketiga.
Pengertian zuhud yang biasa dipaparkan oleh ulama salaf kembali kepada tiga pengertian di atas. Di antaranya, Wahib bin Al Warod mengatakan, “Zuhud terhadap dunia adalah seseorang tidak berputus asa terhadap sesuatu yang luput darinya dan tidak begitu berbangga dengan nikmat yang ia peroleh.” Pengertian ini kembali pada pengertian zuhud yang kedua. [7]
Pengertian Zuhud yang Amat Baik
Jika kita lihat pengertian zuhud yang lebih bagus dan mencakup setiap pengertian zuhud yang disampaikan oleh para ulama, maka pengertian yang sangat bagus adalah yang disampaikan oleh Abu Sulaiman Ad Daroni. Beliau mengatakan, “Para ulama berselisih paham tentang makna zuhud di Irak. Di antara mereka ada yang mengatakan bahwa zuhud adalah enggan bergaul dengan manusia. Ada pula yang mengatakan, “Zuhud adalah meninggalkan berbagai macam syahwat.” Ada pula yang memberikan pengertian, “Zuhud adalah meninggalkan rasa kenyang” Namun definisi-definisi ini saling mendekati. Aku sendiri berpendapat,
أَنَّ الزُهْدَ فِي تَرْكِ مَا يُشْغِلُكَ عَنِ اللهِ
“Zuhud adalah meninggalkan berbagai hal yang dapat melalaikan dari mengingat Allah.”[8]
Ibnu Rajab Al Hambali mengatakan, “Definisi zuhud dari Abu Sulaiman ini amatlah bagus. Definisi telah mencakup seluruh definisi, pembagian dan macam-macam zuhud.”[9]
Jika bisnis yang dijalani malah lebih menyibukkan pada dunia sehingga lalai dari kewajiban shalat, maka sikap zuhud adalah meninggalkannya. Begitu pula jika permainan yang menghibur diri begitu berlebihan dan malah melalaikan dari Allah, maka sikap zuhud adalah meninggalkannya. Demikian pengertian zuhud yang amat luas cakupan maknanya.
Dunia Tidak Tercela Secara Mutlak
Ada sebuah perkataan dari ‘Ali bin Abi Tholib namun dengan sanad yang dikritisi. ‘Ali pernah mendengar seseorang mencela-cela dunia, lantas beliau mengatakan, “Dunia adalah negeri yang baik bagi orang-orang yang memanfaatkannya dengan baik. Dunia pun negeri keselamatan bagi orang yang memahaminya. Dunia juga adalah negeri ghoni (yang berkecukupan) bagi orang yang menjadikan dunia sebagai bekal akhirat. …”[10]
Oleh karena itu, Ibnu Rajab mengatakan, “Dunia itu tidak tercela secara mutlak, inilah yang dimaksudkan oleh Amirul Mukminin –‘Ali bin Abi Tholib-. Dunia bisa jadi terpuji bagi siapa saja yang menjadikan dunia sebagai bekal untuk beramal sholih.”
Ingatlah baik-baik maksud dunia itu tercela agar kita tidak salah memahami! Dunia itu jadi tercela jika dunia tersebut tidak ditujukan untuk mencari ridho Allah dan beramal sholih.
Zuhud Bukan Berarti Hidup Tanpa Harta
Sebagaimana sudah ditegaskan bahwa dunia itu tidak tercela secara mutlak. Namun sebagian orang masih salah paham dengan pengertian zuhud. Jika kita perhatikan pengertian zuhud yang disampaikan di atas, tidaklah kita temukan bahwa zuhud dimaksudkan dengan hidup miskin, enggan mencari nafkah dan hidup penuh menderita. Zuhud adalah perbuatan hati. Oleh karenanya, tidak hanya sekedar memperhatikan keadaan lahiriyah, lalu seseorang bisa dinilai sebagai orang yang zuhud. Jika ada ciri-ciri zuhud sebagaimana yang telah diutarakan di atas, itulah zuhud yang sebenarnya. Berikut satu kisah yang bisa jadi pelajaran bagi kita dalam memahami arti zuhud.
Abul ‘Abbas As Siroj, ia berkata bahwa ia mendengar Ibrahim bin Basyar, ia berkata bahwa ‘Ali bin Fudhail berkata, ia berkata bahwa ayahnya (Fudhail bin ‘Iyadh) berkata pada Ibnul Mubarok,
أنت تأمرنا بالزهد والتقلل، والبلغة، ونراك تأتي بالبضائع، كيف ذا ؟
“Engkau memerintahkan kami untuk zuhud, sederhana dalam harta, hidup yang sepadan (tidak kurang tidak lebih). Namun kami melihat engkau memiliki banyak harta. Mengapa bisa begitu?”
Ibnul Mubarok mengatakan,
يا أبا علي، إنما أفعل ذا لاصون وجهي، وأكرم عرضي، وأستعين به على طاعة ربي.
“Wahai Abu ‘Ali (yaitu Fudhail bin ‘Iyadh). Sesungguhnya hidupku seperti ini hanya untuk menjaga wajahku dari ‘aib (meminta-minta). Juga aku bekerja untuk memuliakan kehormatanku. Aku pun bekerja agar bisa membantuku untuk taat pada Rabbku”.[11]
Semoga pembahasan kami kali ini dapat memahamkan arti zuhud yang sebenarnya. Raihlah kecintaan Allah lewat sifat zuhud. Semoga Allah menganugerahkan pada kita sekalian sifat yang mulia ini.
Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat.
Diselesaikan di sore hari, 17 Jumadits Tsani 1431 H (30/05/2010), di Panggang-GK
Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal
sumber:http://annajiyah.or.id/berita-120-memahami-arti-zuhud.html
Artikel www.muslim.or.id
[1] Lihat Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam, Ibnu Rajab Al Hambali, hal. 346, Darul Muayyid, cetakan pertama, tahun 1424 H.
[2] Fathul Bari, Ibnu Hajar Al Asqolani, 11/232, Darul Ma’rifah, Beirut, 1379.
[3] Idem.
[4] HR. Tirmidzi no. 2340 dan Ibnu Majah no. 4100. Abu Isa berkata: Hadits ini gharib, kami tidak mengetahuinya kecuali dari jalur sanad ini, adapun Abu Idris Al Khaulani namanya adalah A’idzullah bin ‘Abdullah, sedangkan ‘Amru bin Waqid dia adalah seorang yang munkar haditsnya. Ibnu Rajab Al Hambali mengatakan, “Yang tepat riwayat ini mauquf (hanya perkataan Abu Dzar) sebagaimana dikeluarkan oleh Imam Ahmad dalam kitab Az Zuhd.” (Lihat Jaami’ul Ulum wal Hikam, hal. 346)
[5] Dikeluarkan oleh Ibnu Abid Dunya dari riwayat Muhammad bin Muhajir, dari Yunus bin Maysaroh. (Lihat Jaami’ul Ulum wal Hikam, hal. 347)
[6] Jaami’ul Ulum, hal. 347.
[7] Kami sarikan point ini dengan sedikit perubahan redaksi dari Jaami’ul Ulum, hal. 347-348.
[8] Disebutkan oleh Abu Nu’aim Al Ashbahani dalam Hilyatul Awliya’, 9/258, Darul Kutub Al ‘Arobi, Beirut, cetakan keempat, 1405 H.
[9] Jaami’ul Ulum, hal. 350.
[10] Jaami’ul Ulum, hal. 350
[11] Siyar A’lam An Nubala, Adz Dzahabi, 8/387, Mawqi’ Ya’sub (penomoran halaman sesuai cetakan).
Sebagian orang salah paham dengan istilah zuhud. Dikira zuhud adalah hidup tanpa harta. Dikira zuhud adalah hidup miskin. Lalu apa yang dimaksud dengan zuhud yang sebenarnya? Semoga tulisan berikut bisa memberikan jawaban berarti.
Mengenai zuhud disebutkan dalam sebuah hadits,
عَنْ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ السَّاعِدِىِّ قَالَ أَتَى النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- رَجُلٌ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ دُلَّنِى عَلَى عَمَلٍ إِذَا أَنَا عَمِلْتُهُ أَحَبَّنِىَ اللَّهُ وَأَحَبَّنِىَ النَّاسُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « ازْهَدْ فِى الدُّنْيَا يُحِبَّكَ اللَّهُ وَازْهَدْ فِيمَا فِى أَيْدِى النَّاسِ يُحِبُّوكَ ».
Dari Sahl bin Sa’ad As Sa’idi, ia berkata ada seseorang yang mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas berkata, “Wahai Rasulullah, tunjukkanlah padaku suatu amalan yang apabila aku melakukannya, maka Allah akan mencintaiku dan begitu pula manusia.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Zuhudlah pada dunia, Allah akan mencintaimu. Zuhudlah pada apa yang ada di sisi manusia, manusia pun akan mencintaimu.” (HR. Ibnu Majah dan selainnya. An Nawawi mengatakan bahwa dikeluarkan dengan sanad yang hasan)
Dalam hadits di atas terdapat dua nasehat, yaitu untuk zuhud pada dunia, ini akan membuahkan kecintaan Allah, dan zuhud pada apa yang ada di sisi manusia, ini akan mendatangkan kecintaan manusia.[1]
Penyebutan Zuhud Terhadap Dunia dalam Al Qur’an dan Hadits
Masalah zuhud telah disebutkan dalam beberapa ayat dan hadits. Di antara ayat yang menyebutkan masalah zuhud adalah firman Allah Ta’ala tentang orang mukmin di kalangan keluarga Fir’aun yang mengatakan,
وَقَالَ الَّذِي آَمَنَ يَا قَوْمِ اتَّبِعُونِ أَهْدِكُمْ سَبِيلَ الرَّشَادِ (38) يَا قَوْمِ إِنَّمَا هَذِهِ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا مَتَاعٌ وَإِنَّ الْآَخِرَةَ هِيَ دَارُ الْقَرَارِ (39)
“Orang yang beriman itu berkata: “Hai kaumku, ikutilah aku, aku akan menunjukkan kepadamu jalan yang benar. Hai kaumku, sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah kesenangan (sementara) dan sesungguhnya akhirat itulah negeri yang kekal.” (QS. Ghafir: 38-39)
Dalam ayat lainnya, Allah Ta’ala berfirman,
بَلْ تُؤْثِرُونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا (16) وَالْآَخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَى (17)
“Tetapi kamu (orang-orang kafir) memilih kehidupan duniawi. Sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal.” (QS. Al A’laa: 16-17)
Mustaurid berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
وَاللَّهِ مَا الدُّنْيَا فِى الآخِرَةِ إِلاَّ مِثْلُ مَا يَجْعَلُ أَحَدُكُمْ إِصْبَعَهُ هَذِهِ – وَأَشَارَ يَحْيَى بِالسَّبَّابَةِ – فِى الْيَمِّ فَلْيَنْظُرْ بِمَ يَرْجِعُ
“Demi Allah, tidaklah dunia dibanding akhirat melainkan seperti jari salah seorang dari kalian yang dicelup -Yahya berisyarat dengan jari telunjuk- di lautan, maka perhatikanlah apa yang dibawa.” (HR. Muslim no. 2858)
Al Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah menjelaskan, “Dunia seperti air yang tersisa di jari ketika jari tersebut dicelup di lautan sedangkan akhirat adalah air yang masih tersisa di lautan.”[2] Bayangkanlah, perbandingan yang amat jauh antara kenikmatan dunia dan akhirat!
Dari Sahl bin Sa’ad, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لَوْ كَانَتِ الدُّنْيَا تَعْدِلُ عِنْدَ اللَّهِ جَنَاحَ بَعُوضَةٍ مَا سَقَى كَافِرًا مِنْهَا شَرْبَةَ مَاءٍ
“Seandainya harga dunia itu di sisi Allah sebanding dengan sayap nyamuk tentu Allah tidak mau memberi orang orang kafir walaupun hanya seteguk air.” (HR. Tirmidzi no. 2320. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)
Tiga Makna Zuhud Terhadap Dunia
Yang dimaksud dengan zuhud pada sesuatu –sebagaimana dijelaskan oleh Ibnu Rajab Al Hambali- adalah berpaling darinya dengan sedikit dalam memilikinya, menghinakan diri darinya serta membebaskan diri darinya.[3] Adapun mengenai zuhud terhadap dunia para ulama menyampaikan beberapa pengertian, di antaranya disampaikan oleh sahabat Abu Dzar.
Abu Dzar mengatakan,
الزَّهَادَةُ فِى الدُّنْيَا لَيْسَتْ بِتَحْرِيمِ الْحَلاَلِ وَلاَ إِضَاعَةِ الْمَالِ وَلَكِنَّ الزَّهَادَةَ فِى الدُّنْيَا أَنْ لاَ تَكُونَ بِمَا فِى يَدَيْكَ أَوْثَقَ مِمَّا فِى يَدَىِ اللَّهِ وَأَنْ تَكُونَ فِى ثَوَابِ الْمُصِيبَةِ إِذَا أَنْتَ أُصِبْتَ بِهَا أَرْغَبَ فِيهَا لَوْ أَنَّهَا أُبْقِيَتْ لَكَ
“Zuhud terhadap dunia bukan berarti mengharamkan yang halal dan bukan juga menyia-nyiakan harta. Akan tetapi zuhud terhadap dunia adalah engkau begitu yakin terhadapp apa yang ada di tangan Allah daripada apa yang ada di tanganmu. Zuhud juga berarti ketika engkau tertimpa musibah, engkau lebih mengharap pahala dari musibah tersebut daripada kembalinya dunia itu lagi padamu.”[4]
Yunus bin Maysaroh menambahkan pengertian zuhud yang disampaikan oleh Abu Dzar. Beliau menambahkan bahwa yang termasuk zuhud adalah, “Samanya pujian dan celaan ketika berada di atas kebenaran.”[5]
Ibnu Rajab Al Hambali rahimahullah mengatakan, “Zuhud terhadap dunia dalam riwayat di atas ditafsirkan dengan tiga hal, yang kesemuanya adalah amalan batin (amalan hati), bukan amalan lahiriyah (jawarih/anggota badan). Abu Sulaiman menyatakan, “Janganlah engkau mempersaksikan seorang pun dengan zuhud, karena zuhud sebenarnya adalah amalan hati.“[6]
Cobalah kita perhatikan penjelasan dari Ibnu Rajab Al Hambali rahimahullah terhadap tiga unsur dari pengertian zuhud yang telah disebutkan di atas.
Pertama: Zuhud adalah yakin bahwa apa yang ada di sisi Allah itu lebih diharap-harap dari apa yang ada di sisinya. Ini tentu saja dibangun di atas rasa yakin yang kokoh pada Allah. Oleh karena itu, Al Hasan Al Bashri menyatakan, “Yang menunjukkan lemahnya keyakinanmu, apa yang ada di sisimu (berupa harta dan lainnya –pen) lebih engkau harap dari apa yang ada di sisi Allah.”
Abu Hazim –seorang yang dikenal begitu zuhud- ditanya, “Apa saja hartamu?” Ia pun berkata, “Aku memiliki dua harta berharga yang membuatku tidak khawatir miskin: [1] rasa yakin pada Allah dan [2] tidak mengharap-harap apa yang ada di sisi manusia.”
Lanjut lagi, ada yang bertanya pada Abu Hazim, “Tidakkah engkau takut miskin?” Ia memberikan jawaban yang begitu mempesona, “Bagaimana aku takut miskin sedangkan Allah sebagai penolongku adalah pemilik segala apa yang ada di langit dan di bumi, bahkan apa yang ada di bawah gundukan tanah?!”
Al Fudhail bin ‘Iyadh mengatakan, “Hakikat zuhud adalah ridho pada Allah ‘azza wa jalla.” Ia pun berkata, “Sifat qona’ah, itulah zuhud. Itulah jiwa yang “ghoni”, yaitu selalu merasa cukup.”
Intinya, pengertian zuhud yang pertama adalah begitu yakin kepada Allah.
Kedua: Di antara bentuk zuhud adalah jika seorang hamba ditimpa musibah dalam hal dunia berupa hilangnya harta, anak atau selainnya, maka ia lebih mengharap pahala dari musibah tersebut daripada dunia tadi tetap ada. Ini tentu saja dibangun di atas rasa yakin yang sempurna.
Siapakah yang rela hartanya hilang, lalu ia lebih harap pahala?! Yang diharap ketika harta itu hilang adalah bagaimana bisa harta tersebut itu kembali, itulah yang dialami sebagian manusia. Namun Abu Dzar mengistilahkan zuhud dengan rasa yakin yang kokoh. Orang yang zuhud lebih berharap pahala dari musibah dunianya daripada mengharap dunia tadi tetap ada. Sungguh ini tentu saja dibangun atas dasar iman yang mantap.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hal ini telah mengajarkan do’a yang sangat bagus kandungannya, yaitu berisi permintaan rasa yakin agar begitu ringan menghadapi musibah. Do’a tersebut adalah,
اللَّهُمَّ اقْسِمْ لَنَا مِنْ خَشْيَتِكَ مَا يَحُولُ بَيْنَنَا وَبَيْنَ مَعَاصِيكَ وَمِنْ طَاعَتِكَ مَا تُبَلِّغُنَا بِهِ جَنَّتَكَ وَمِنَ الْيَقِينِ مَا تُهَوِّنُ بِهِ عَلَيْنَا مُصِيبَاتِ الدُّنْيَا
“Allaahummaqsim lanaa min khosy-yatika maa yahuulu bihii bainanaa wa baina ma’aashiika, wa min thoo’atika maa tuballighunaa bihi jannatak, wa minal yaqiini maa tuhawwinu bihi ‘alainaa mushiibaatid dunyaa” (Ya Allah, curahkanlah kepada kepada kami rasa takut kepadaMu yang menghalangi kami dari bermaksiat kepadaMu, dan ketaatan kepadaMu yang mengantarkan kami kepada SurgaMu, dan curahkanlah rasa yakin yang dapat meringankan berbagai musibah di dunia) (HR. Tirmidzi no. 3502. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan). Inilah di antara tanda zuhud, ia tidak begitu berharap dunia tetap ada ketika ia tertimpa musibah. Namun yang ia harap adalah pahala di sisi Allah.
‘Ali bin Abi Tholib pernah mengatakan, “Siapa yang zuhud terhadap dunia, maka ia akan semakin ringan menghadapi musibah.” Tentu saja yang dimaksud zuhud di sini adalah tidak mengharap dunia itu tetap ada ketika musibah dunia itu datang. Sekali lagi, sikap semacam ini tentu saja dimiliki oleh orang yang begitu yakin akan janji Allah di balik musibah.
Ketiga: Zuhud adalah keadaan seseorang ketika dipuji atau pun dicela dalam kebenaran itu sama saja. Inilah tanda seseorang begitu zuhud pada dunia, menganggap dunia hanya suatu yang rendahan saja, ia pun sedikit berharap dengan keistimewaan dunia. Sedangkan seseorang yang menganggap dunia begitu luar biasa, ia begitu mencari pujian dan benci pada celaan. Orang yang kondisinya sama ketika dipuji dan dicela dalam kebenaran, ini menunjukkan bahwa hatinya tidak mengistimewakan satu pun makhluk. Yang ia cinta adalah kebenaran dan yang ia cari adalah ridho Ar Rahman.
Orang yang zuhud selalu mengharap ridho Ar Rahman bukan mengharap-harap pujian manusia. Sebagaimana kata Ibnu Mas’ud, “Rasa yakin adalah seseorang tidak mencari ridho manusia, lalu mendatangkan murka Allah. Allah sungguh memuji orang yang berjuang di jalan Allah. Mereka sama sekali tidaklah takut pada celaan manusia.”
Al Hasan Al Bashri mengatakan, “Orang yang zuhud adalah yang melihat orang lain, lantas ia katakan, “Orang tersebut lebih baik dariku”. Ini menunjukkan bahwa hakekat zuhud adalah ia tidak menganggap dirinya lebih dari yang lain. Hal ini termasuk dalam pengertian zuhud yang ketiga.
Pengertian zuhud yang biasa dipaparkan oleh ulama salaf kembali kepada tiga pengertian di atas. Di antaranya, Wahib bin Al Warod mengatakan, “Zuhud terhadap dunia adalah seseorang tidak berputus asa terhadap sesuatu yang luput darinya dan tidak begitu berbangga dengan nikmat yang ia peroleh.” Pengertian ini kembali pada pengertian zuhud yang kedua. [7]
Pengertian Zuhud yang Amat Baik
Jika kita lihat pengertian zuhud yang lebih bagus dan mencakup setiap pengertian zuhud yang disampaikan oleh para ulama, maka pengertian yang sangat bagus adalah yang disampaikan oleh Abu Sulaiman Ad Daroni. Beliau mengatakan, “Para ulama berselisih paham tentang makna zuhud di Irak. Di antara mereka ada yang mengatakan bahwa zuhud adalah enggan bergaul dengan manusia. Ada pula yang mengatakan, “Zuhud adalah meninggalkan berbagai macam syahwat.” Ada pula yang memberikan pengertian, “Zuhud adalah meninggalkan rasa kenyang” Namun definisi-definisi ini saling mendekati. Aku sendiri berpendapat,
أَنَّ الزُهْدَ فِي تَرْكِ مَا يُشْغِلُكَ عَنِ اللهِ
“Zuhud adalah meninggalkan berbagai hal yang dapat melalaikan dari mengingat Allah.”[8]
Ibnu Rajab Al Hambali mengatakan, “Definisi zuhud dari Abu Sulaiman ini amatlah bagus. Definisi telah mencakup seluruh definisi, pembagian dan macam-macam zuhud.”[9]
Jika bisnis yang dijalani malah lebih menyibukkan pada dunia sehingga lalai dari kewajiban shalat, maka sikap zuhud adalah meninggalkannya. Begitu pula jika permainan yang menghibur diri begitu berlebihan dan malah melalaikan dari Allah, maka sikap zuhud adalah meninggalkannya. Demikian pengertian zuhud yang amat luas cakupan maknanya.
Dunia Tidak Tercela Secara Mutlak
Ada sebuah perkataan dari ‘Ali bin Abi Tholib namun dengan sanad yang dikritisi. ‘Ali pernah mendengar seseorang mencela-cela dunia, lantas beliau mengatakan, “Dunia adalah negeri yang baik bagi orang-orang yang memanfaatkannya dengan baik. Dunia pun negeri keselamatan bagi orang yang memahaminya. Dunia juga adalah negeri ghoni (yang berkecukupan) bagi orang yang menjadikan dunia sebagai bekal akhirat. …”[10]
Oleh karena itu, Ibnu Rajab mengatakan, “Dunia itu tidak tercela secara mutlak, inilah yang dimaksudkan oleh Amirul Mukminin –‘Ali bin Abi Tholib-. Dunia bisa jadi terpuji bagi siapa saja yang menjadikan dunia sebagai bekal untuk beramal sholih.”
Ingatlah baik-baik maksud dunia itu tercela agar kita tidak salah memahami! Dunia itu jadi tercela jika dunia tersebut tidak ditujukan untuk mencari ridho Allah dan beramal sholih.
Zuhud Bukan Berarti Hidup Tanpa Harta
Sebagaimana sudah ditegaskan bahwa dunia itu tidak tercela secara mutlak. Namun sebagian orang masih salah paham dengan pengertian zuhud. Jika kita perhatikan pengertian zuhud yang disampaikan di atas, tidaklah kita temukan bahwa zuhud dimaksudkan dengan hidup miskin, enggan mencari nafkah dan hidup penuh menderita. Zuhud adalah perbuatan hati. Oleh karenanya, tidak hanya sekedar memperhatikan keadaan lahiriyah, lalu seseorang bisa dinilai sebagai orang yang zuhud. Jika ada ciri-ciri zuhud sebagaimana yang telah diutarakan di atas, itulah zuhud yang sebenarnya. Berikut satu kisah yang bisa jadi pelajaran bagi kita dalam memahami arti zuhud.
Abul ‘Abbas As Siroj, ia berkata bahwa ia mendengar Ibrahim bin Basyar, ia berkata bahwa ‘Ali bin Fudhail berkata, ia berkata bahwa ayahnya (Fudhail bin ‘Iyadh) berkata pada Ibnul Mubarok,
أنت تأمرنا بالزهد والتقلل، والبلغة، ونراك تأتي بالبضائع، كيف ذا ؟
“Engkau memerintahkan kami untuk zuhud, sederhana dalam harta, hidup yang sepadan (tidak kurang tidak lebih). Namun kami melihat engkau memiliki banyak harta. Mengapa bisa begitu?”
Ibnul Mubarok mengatakan,
يا أبا علي، إنما أفعل ذا لاصون وجهي، وأكرم عرضي، وأستعين به على طاعة ربي.
“Wahai Abu ‘Ali (yaitu Fudhail bin ‘Iyadh). Sesungguhnya hidupku seperti ini hanya untuk menjaga wajahku dari ‘aib (meminta-minta). Juga aku bekerja untuk memuliakan kehormatanku. Aku pun bekerja agar bisa membantuku untuk taat pada Rabbku”.[11]
Semoga pembahasan kami kali ini dapat memahamkan arti zuhud yang sebenarnya. Raihlah kecintaan Allah lewat sifat zuhud. Semoga Allah menganugerahkan pada kita sekalian sifat yang mulia ini.
Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat.
Diselesaikan di sore hari, 17 Jumadits Tsani 1431 H (30/05/2010), di Panggang-GK
Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal
sumber:http://annajiyah.or.id/berita-120-memahami-arti-zuhud.html
Artikel www.muslim.or.id
[1] Lihat Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam, Ibnu Rajab Al Hambali, hal. 346, Darul Muayyid, cetakan pertama, tahun 1424 H.
[2] Fathul Bari, Ibnu Hajar Al Asqolani, 11/232, Darul Ma’rifah, Beirut, 1379.
[3] Idem.
[4] HR. Tirmidzi no. 2340 dan Ibnu Majah no. 4100. Abu Isa berkata: Hadits ini gharib, kami tidak mengetahuinya kecuali dari jalur sanad ini, adapun Abu Idris Al Khaulani namanya adalah A’idzullah bin ‘Abdullah, sedangkan ‘Amru bin Waqid dia adalah seorang yang munkar haditsnya. Ibnu Rajab Al Hambali mengatakan, “Yang tepat riwayat ini mauquf (hanya perkataan Abu Dzar) sebagaimana dikeluarkan oleh Imam Ahmad dalam kitab Az Zuhd.” (Lihat Jaami’ul Ulum wal Hikam, hal. 346)
[5] Dikeluarkan oleh Ibnu Abid Dunya dari riwayat Muhammad bin Muhajir, dari Yunus bin Maysaroh. (Lihat Jaami’ul Ulum wal Hikam, hal. 347)
[6] Jaami’ul Ulum, hal. 347.
[7] Kami sarikan point ini dengan sedikit perubahan redaksi dari Jaami’ul Ulum, hal. 347-348.
[8] Disebutkan oleh Abu Nu’aim Al Ashbahani dalam Hilyatul Awliya’, 9/258, Darul Kutub Al ‘Arobi, Beirut, cetakan keempat, 1405 H.
[9] Jaami’ul Ulum, hal. 350.
[10] Jaami’ul Ulum, hal. 350
[11] Siyar A’lam An Nubala, Adz Dzahabi, 8/387, Mawqi’ Ya’sub (penomoran halaman sesuai cetakan).
Selasa, 09 November 2010
Sayang dan Cinta
Allohumma inni uhibbuhu faahibbuhu wa ahibba mayyuhibbuhu
Ya Alloh, sungguh aku menyayanginya. Maka sayangilah ia dan sayangi pula orang yang menyayanginya. (HR. Al-Bukhori)
Suatu hari Rusululloh sholallahu 'alayhi wasallam pergi ke pasar. Beliau ditemani sahabatnya Abu Hurairoh, dan setelah berkeliling pasar beliau mampir di masjid, beristirahat. Kemudian beliau memanggil cucunya Hasan bin Ali. Cucunya yang lucu itu berlari kearah Rosul dan duduk dipangkuannya. Kemudian beliau mencium cucu tersayang dan berdo'a seperti diatas.
Begitulah beliau mencontohkan bagaimana mencurahkan kasih sayang kepada cucunya. Beliau tidak memberikan uang jajan, tidak memberikan pakaian yang mewah, apalagi mengajaknya jalan jalan ke Mall ...(lagian waktu itu blom ada mall, apalagi disney land). Beliau mencurahkan kasih sayang nya dengan sentuhan dengan hatinya dan do'a yang tulus dari mulutnya. Sungguh suatu contoh yang sangat menyentuh...
Tidak hanya kepada cucunya, kepada anak anak kecil lainnya, seperti yang diceritakan oleh Usamah bin Zaid.
Dahulu sewaktu aku kecil Nabi pernah mendudukkanku disebelah pahanya dan mendudukkan Hasan bin Ali disebelah paha yang lain. Dan kemudian beliau memeluk kami sambil berdo'a:
"Allohummarhumma fainni arhamuhuma"
Ya Alloh sayangilah keduanya, sungguh aku menyayangi keduanya (HR. Al-Bukhori)
Sungguh contoh tauladan yang baik sekali. Dimana dewasa ini, seringkali kita melihat para orang tua, para kakek2 dan nenek2 mencurahkan kasih sayangnya dengan anak cucunya secara berlebih-lebihan dengan menjejalkan anak cucu dengan bentuk materi, yang belum tentu dibutuhkan oleh anak cucunya. Kadang pemberian materi, sebagai pengganti rasa bersalah karena tidak bisa mendampingi anak cucunya setiap waktu, karena kesibukannya mencari nafkah, mengejar karier. Karena dari mengejar karier seseorang beroleh uang, maka dicurahkannya materi untuk menebus kekurangannya. Mainan sampai menumpuk digudang, belum rusak satu mainan, besoknya sudah dibelikan mainan baru. Anak anak dibiarkan main sendiri bersama pembantu, lalu ditambah "pembenaran" dengan mengucapkan: Yang penting kan kwalitasnya, bukan kwantitas waktu ketemu anak-anak..
Jadilah anak tumbuh bersama pembantu, baby sitter atau apalah namanya..bersama mainan yang menumpuk.
Kita lupa anak butuh kasih sayang, sentuhan sederhana namun sangat berarti bagi bathin si anak, ditambah do'a yang tulus seperti diatas.
Maka sungguh saya kagum, kepada para ibu, yang karena pendidikannya, mampu memperoleh kesempatan karier yang luas, mampu meraih gaji yang tinggi, tapi tetap memilih menjadi ibu rumah tangga, pendamping suami tercinta, pembimbing anak-anak terkasih, merawatnya sampai mengajari dan menuntunnya berjalan,menunggu belajar kesekolah, sampai mengantarnya ke pendidikan yang lebih tinggi lagi. Tidak ada imbalan materi yang diharapkannya, kecuali harapan nanti, buah hatinya kelak menjadi manusia yang mandiri, hormat kepada kedua orang tuanya, bermanfaat bagi orang lain dan menebar kebaikan bagi sesama tapi tetap rendah hati dan bertaqwa pada Tuhannya.
Sungguh keputusan yang mulia, menjadi ibu rumah tangga bukan pekerjaan hina, bukan profesi yang memalukan. Itu adalah keputusan terbesar yang pernah dia buat seumur hidupnya. Sebab dari rahimnya kelak tercipta generasi unggul, generasi cerdas, generasi tangguh, yang kelak akan menjadi pemimpin kaumnya, pemimpin generasinya yang mampu membawa kesejahteraan bagi umat, kebahagiaan bagi keluarga dan kedamaian bagi sesama..
Semoga
Wassalam
Marbot
Ya Alloh, sungguh aku menyayanginya. Maka sayangilah ia dan sayangi pula orang yang menyayanginya. (HR. Al-Bukhori)
Suatu hari Rusululloh sholallahu 'alayhi wasallam pergi ke pasar. Beliau ditemani sahabatnya Abu Hurairoh, dan setelah berkeliling pasar beliau mampir di masjid, beristirahat. Kemudian beliau memanggil cucunya Hasan bin Ali. Cucunya yang lucu itu berlari kearah Rosul dan duduk dipangkuannya. Kemudian beliau mencium cucu tersayang dan berdo'a seperti diatas.
Begitulah beliau mencontohkan bagaimana mencurahkan kasih sayang kepada cucunya. Beliau tidak memberikan uang jajan, tidak memberikan pakaian yang mewah, apalagi mengajaknya jalan jalan ke Mall ...(lagian waktu itu blom ada mall, apalagi disney land). Beliau mencurahkan kasih sayang nya dengan sentuhan dengan hatinya dan do'a yang tulus dari mulutnya. Sungguh suatu contoh yang sangat menyentuh...
Tidak hanya kepada cucunya, kepada anak anak kecil lainnya, seperti yang diceritakan oleh Usamah bin Zaid.
Dahulu sewaktu aku kecil Nabi pernah mendudukkanku disebelah pahanya dan mendudukkan Hasan bin Ali disebelah paha yang lain. Dan kemudian beliau memeluk kami sambil berdo'a:
"Allohummarhumma fainni arhamuhuma"
Ya Alloh sayangilah keduanya, sungguh aku menyayangi keduanya (HR. Al-Bukhori)
Sungguh contoh tauladan yang baik sekali. Dimana dewasa ini, seringkali kita melihat para orang tua, para kakek2 dan nenek2 mencurahkan kasih sayangnya dengan anak cucunya secara berlebih-lebihan dengan menjejalkan anak cucu dengan bentuk materi, yang belum tentu dibutuhkan oleh anak cucunya. Kadang pemberian materi, sebagai pengganti rasa bersalah karena tidak bisa mendampingi anak cucunya setiap waktu, karena kesibukannya mencari nafkah, mengejar karier. Karena dari mengejar karier seseorang beroleh uang, maka dicurahkannya materi untuk menebus kekurangannya. Mainan sampai menumpuk digudang, belum rusak satu mainan, besoknya sudah dibelikan mainan baru. Anak anak dibiarkan main sendiri bersama pembantu, lalu ditambah "pembenaran" dengan mengucapkan: Yang penting kan kwalitasnya, bukan kwantitas waktu ketemu anak-anak..
Jadilah anak tumbuh bersama pembantu, baby sitter atau apalah namanya..bersama mainan yang menumpuk.
Kita lupa anak butuh kasih sayang, sentuhan sederhana namun sangat berarti bagi bathin si anak, ditambah do'a yang tulus seperti diatas.
Maka sungguh saya kagum, kepada para ibu, yang karena pendidikannya, mampu memperoleh kesempatan karier yang luas, mampu meraih gaji yang tinggi, tapi tetap memilih menjadi ibu rumah tangga, pendamping suami tercinta, pembimbing anak-anak terkasih, merawatnya sampai mengajari dan menuntunnya berjalan,menunggu belajar kesekolah, sampai mengantarnya ke pendidikan yang lebih tinggi lagi. Tidak ada imbalan materi yang diharapkannya, kecuali harapan nanti, buah hatinya kelak menjadi manusia yang mandiri, hormat kepada kedua orang tuanya, bermanfaat bagi orang lain dan menebar kebaikan bagi sesama tapi tetap rendah hati dan bertaqwa pada Tuhannya.
Sungguh keputusan yang mulia, menjadi ibu rumah tangga bukan pekerjaan hina, bukan profesi yang memalukan. Itu adalah keputusan terbesar yang pernah dia buat seumur hidupnya. Sebab dari rahimnya kelak tercipta generasi unggul, generasi cerdas, generasi tangguh, yang kelak akan menjadi pemimpin kaumnya, pemimpin generasinya yang mampu membawa kesejahteraan bagi umat, kebahagiaan bagi keluarga dan kedamaian bagi sesama..
Semoga
Wassalam
Marbot
Jumat, 29 Oktober 2010
AdDien, AdDunya dan Akhirat
Pagi ini diawali sholat subuh, seperti biasanya diakhiri dengan berdo'a. Ada doa yang sangat saya senangi atau katakanlah yang paling favorit yang saya panjatkan untuk diri sendiri.
Tentunya setelah memuji keagungan dan kebesaranNYA serta sholawat pd junjungan Kanjeng Rosul beserta keluarganya. Lalu mendo'akan orang tua yg sdh tiada dan Ibunda yg masih hidup. Menyusul permintaan untuk istri dan anak anak tercinta.
Baru terakhir, do'a untuk diri sendiri..
Nah..dari sekian banyak do'a yg diajarkan Rosululloh shalallohu alayhi wasallam, ada satu do'a yg selalu saya panjatkan ktk sepertiga malam dan setelah sholat subuh..
Do'a ini diriwayatakan dalam hadits muslim.
Begini do'anya:
اللَّهُمَّ أَصْلِحْ لِي دِينِي الَّذِي هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِي وَأَصْلِحْ لِي دُنْيَايَ الَّتِي فِيهَا مَعَاشِي وَأَصْلِحْ لِي آخِرَتِي الَّتِي فِيهَا مَعَادِي وَاجْعَلْ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لِي فِي كُلِّ خَيْرٍ وَاجْعَلْ الْمَوْتَ رَاحَةً لِي مِنْ كُلِّ شَرٍّ
(HR Muslim 4897)
Allohumma ashlih li diinii alladzi huwa 'ishmatu amrii/ wa ashlihlii dunyaya allti fiiha ma'aasyi/ wa ashlihlii aakhirotii allati fiihaa ma'aadi/ waj'alil hayaata ziyaadan lii fii kulli khoir/ waj'alil mauta rohatan lii min kulli syarr.
Artinya:
Ya Alloh..perbaikilah agamaku, (dimana) agama itu akhir dr semua perkara/
Perbaikilah duniaku,yang mana (dunia itu) adalah tempat kehidupanku/
Dan perbaikilah Akhiratku, yang mana(dimana akhirat itu) adalah tempat kembaliku/
Jadikanlah kehidupan sbg tambahan bagiku didalam setiap kebaikan/
Dan jadikanlah mati, sebagai istirahat bagiku dalam setiap kejelekan(kemaksiatan)
Cukup lengkap dan menyentuh sanubari kita bukan...?
Mudah2an setiap umur yang diberikan Alloh didunia ini menjadi tambahan kebaikan bagi kita dan orang orang yang kita kasihi.
Dan kematian semakin dekat kita jelang, semakin menambah kecintaan kita padaNYA, dimana kita beristirahat dan berhenti dari kemaksiatan..
Ya Alloh Ya Robb ...
Kami sangat mencintaiMU
Wassalam.
Marbot
Tentunya setelah memuji keagungan dan kebesaranNYA serta sholawat pd junjungan Kanjeng Rosul beserta keluarganya. Lalu mendo'akan orang tua yg sdh tiada dan Ibunda yg masih hidup. Menyusul permintaan untuk istri dan anak anak tercinta.
Baru terakhir, do'a untuk diri sendiri..
Nah..dari sekian banyak do'a yg diajarkan Rosululloh shalallohu alayhi wasallam, ada satu do'a yg selalu saya panjatkan ktk sepertiga malam dan setelah sholat subuh..
Do'a ini diriwayatakan dalam hadits muslim.
Begini do'anya:
اللَّهُمَّ أَصْلِحْ لِي دِينِي الَّذِي هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِي وَأَصْلِحْ لِي دُنْيَايَ الَّتِي فِيهَا مَعَاشِي وَأَصْلِحْ لِي آخِرَتِي الَّتِي فِيهَا مَعَادِي وَاجْعَلْ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لِي فِي كُلِّ خَيْرٍ وَاجْعَلْ الْمَوْتَ رَاحَةً لِي مِنْ كُلِّ شَرٍّ
(HR Muslim 4897)
Allohumma ashlih li diinii alladzi huwa 'ishmatu amrii/ wa ashlihlii dunyaya allti fiiha ma'aasyi/ wa ashlihlii aakhirotii allati fiihaa ma'aadi/ waj'alil hayaata ziyaadan lii fii kulli khoir/ waj'alil mauta rohatan lii min kulli syarr.
Artinya:
Ya Alloh..perbaikilah agamaku, (dimana) agama itu akhir dr semua perkara/
Perbaikilah duniaku,yang mana (dunia itu) adalah tempat kehidupanku/
Dan perbaikilah Akhiratku, yang mana(dimana akhirat itu) adalah tempat kembaliku/
Jadikanlah kehidupan sbg tambahan bagiku didalam setiap kebaikan/
Dan jadikanlah mati, sebagai istirahat bagiku dalam setiap kejelekan(kemaksiatan)
Cukup lengkap dan menyentuh sanubari kita bukan...?
Mudah2an setiap umur yang diberikan Alloh didunia ini menjadi tambahan kebaikan bagi kita dan orang orang yang kita kasihi.
Dan kematian semakin dekat kita jelang, semakin menambah kecintaan kita padaNYA, dimana kita beristirahat dan berhenti dari kemaksiatan..
Ya Alloh Ya Robb ...
Kami sangat mencintaiMU
Wassalam.
Marbot
Rabu, 20 Oktober 2010
Presiden, Syahrir dan Gosip
Presiden adalah jabatan tertinggi di negeri ini. Sebab negeri kita adalah Republik yang dipimpin seorang Presiden. Sudah 65 tahun usia negara kita ini yang sejak tahun 1945 diproklamirkan sebagai negara yang merdeka
Tapi baru kali ini kita memiliki Presiden yang kita pilih secara langsung. Seharusnya Presiden kita ini punya kepercayaan diri yang besar, karena dipilih langsung oleh rakyat.
Tapi entah kenapa badannya yang besar, tidak sama sebangun dengan nyalinya, tidak sama sebangun dengan pemikirannya, tidak sama sebangun dengan tindakannya.
Jauh berbeda dengan pemimpin kita terdahulu, Sutan Syahrir. Walaupun badannya kecil tapi nyali, pemikiran, visi maupun tindakannya mampu membawa Indonesia merdeka pada 17 Agustus 1945. Jika tidak ada Syahrir, mungkin Soekarno-Hatta tidak berani memproklamirkan Indonesia Merdeka, dan bisa bisa kemerdekaan Indonesia dianggap hadiah dari Jepang, sehingga kita bisa dijadikan negara boneka Jepang.
Walaupun keberaniannya, membawa dia ke penjara tanpa diadili dan wafat di negeri orang.
Entah kenapa Presiden kita gemar berbicara di podium dengan gaya penceramah, dan membeberkan berita yang belum pasti kebenarannya. Dengan mendahului dengan "katanya"
Kalau dia sebagai Presiden saja belum yakin dengan beritanya, kenapa pula hal itu disampaikan kepada rakyat secara terbuka?
Bukankah Presiden mempunyai pembantu-pembantu yang pandai, sumber intelejen yang mumpuni?
Ataukah Presiden kita ini, sudah terjangkit virus infotainment, yang gemar mengumbar gosip dan berita murahan...
Berita seperti diatas tersebut ("katanya...")tidak cuma sekali ini saja. Coba simak berita-berita yang lalu. Beliau kerap menyebut "katanya..."
Dihari Ulang Tahun Pemerintahannya yang genap setahun ini, cobalah Bapak Presiden lebih bijak dalam memilih kata dalam pidatonya ke rakyat. Jangan terlalu sering tampil untuk bicara hal yang remeh. Negara kita ini sangat luas Pak, rakyat kita ini jumlahnya besar Pak, banyak masalah besar yang menghadang didepan untuk diselesaikan.
Berhentilah bersibuk diri dengan pencitraan diri, berhentilah mengeluh, berhentilah menyalahkan orang lain dan berhentilah mengklaim keberhasilan diri.
Bekerjalah, "Sepi ing pamrih rame ing gawe"
Saya yakin, rakyat akan mendukung Bapak untuk memajukan bangsa ini dari keterpurukan multi dimensi, jika mereka merasa dipimpin oleh seorang, yang tidak saja berbadan besar, tapi juga punya pemikiran, cita-cita dan tindakan yang besar.
Jangan kuatir ada yang menggulingkan Bapak, apalagi mengkasurkan Bapak...
Selamat Ulang Tahun berkuasa ya..Pak.
Salam dari rakyat
Jakarta, 20 Oktober 2010
Marbot
Tapi baru kali ini kita memiliki Presiden yang kita pilih secara langsung. Seharusnya Presiden kita ini punya kepercayaan diri yang besar, karena dipilih langsung oleh rakyat.
Tapi entah kenapa badannya yang besar, tidak sama sebangun dengan nyalinya, tidak sama sebangun dengan pemikirannya, tidak sama sebangun dengan tindakannya.
Jauh berbeda dengan pemimpin kita terdahulu, Sutan Syahrir. Walaupun badannya kecil tapi nyali, pemikiran, visi maupun tindakannya mampu membawa Indonesia merdeka pada 17 Agustus 1945. Jika tidak ada Syahrir, mungkin Soekarno-Hatta tidak berani memproklamirkan Indonesia Merdeka, dan bisa bisa kemerdekaan Indonesia dianggap hadiah dari Jepang, sehingga kita bisa dijadikan negara boneka Jepang.
Walaupun keberaniannya, membawa dia ke penjara tanpa diadili dan wafat di negeri orang.
Entah kenapa Presiden kita gemar berbicara di podium dengan gaya penceramah, dan membeberkan berita yang belum pasti kebenarannya. Dengan mendahului dengan "katanya"
Kalau dia sebagai Presiden saja belum yakin dengan beritanya, kenapa pula hal itu disampaikan kepada rakyat secara terbuka?
Bukankah Presiden mempunyai pembantu-pembantu yang pandai, sumber intelejen yang mumpuni?
Ataukah Presiden kita ini, sudah terjangkit virus infotainment, yang gemar mengumbar gosip dan berita murahan...
Berita seperti diatas tersebut ("katanya...")tidak cuma sekali ini saja. Coba simak berita-berita yang lalu. Beliau kerap menyebut "katanya..."
Dihari Ulang Tahun Pemerintahannya yang genap setahun ini, cobalah Bapak Presiden lebih bijak dalam memilih kata dalam pidatonya ke rakyat. Jangan terlalu sering tampil untuk bicara hal yang remeh. Negara kita ini sangat luas Pak, rakyat kita ini jumlahnya besar Pak, banyak masalah besar yang menghadang didepan untuk diselesaikan.
Berhentilah bersibuk diri dengan pencitraan diri, berhentilah mengeluh, berhentilah menyalahkan orang lain dan berhentilah mengklaim keberhasilan diri.
Bekerjalah, "Sepi ing pamrih rame ing gawe"
Saya yakin, rakyat akan mendukung Bapak untuk memajukan bangsa ini dari keterpurukan multi dimensi, jika mereka merasa dipimpin oleh seorang, yang tidak saja berbadan besar, tapi juga punya pemikiran, cita-cita dan tindakan yang besar.
Jangan kuatir ada yang menggulingkan Bapak, apalagi mengkasurkan Bapak...
Selamat Ulang Tahun berkuasa ya..Pak.
Salam dari rakyat
Jakarta, 20 Oktober 2010
Marbot
Tips for the day
1. Take a 10-30 minute walk every day. & while you walk, SMILE. It is the ultimate anti-depressant.
2. Sit in silence for at least 10 minutes each day.
3. When you wake up in the morning,Pray to ask God's guidance for your purpose, today.
4. Eat more foods that grow on trees and plants and eat less food that is manufactured in plants.
5. Drink green tea & plenty of water. Eat blueberries, wild Alaskan salmon, broccoli, and almonds.
6. Try to make at least three people smile each day.
7. Don't waste your precious energy on gossip, energy vampires, issues of the past, negative thoughts or things you cannot control. Instead invest your energy in the positive present moment.
8. Eat breakfast like a king, lunch like a prince and dinner like a college kid with a maxed out charge card.
9. Life isn't fair, but it's still good.
10. Life is too short to waste time hating anyone. Forgive them for everything!
11. Don't take yourself so seriously. No one else does.
12. You don't have to win every argument. Agree to disagree.
13. Make peace with your past so it won't spoil the present.
14. Don't compare your life to others. You have no idea what their journey is all about.
15. No one is in charge of your happiness except you.
16. Frame every so-called disaster with these words: 'In five years, will this matter?'
17. Help the needy, be generous! Be a 'Giver' not a 'Taker'
18. What other people think of you is none of your business.
19. Time heals everything.
20. However good or bad a situation is, it will change.
21. Your job won't take care of you when you are sick. Your friends will. Stay in touch.
22. Envy is a waste of time. You already have all you need.
23. Each night before you go to bed, Pray to God and Be thankful for what you have accomplished today !
24. Remember that you are too blessed to be stressed!
25. Please forward this to everyone you care about.. I just did..
2. Sit in silence for at least 10 minutes each day.
3. When you wake up in the morning,Pray to ask God's guidance for your purpose, today.
4. Eat more foods that grow on trees and plants and eat less food that is manufactured in plants.
5. Drink green tea & plenty of water. Eat blueberries, wild Alaskan salmon, broccoli, and almonds.
6. Try to make at least three people smile each day.
7. Don't waste your precious energy on gossip, energy vampires, issues of the past, negative thoughts or things you cannot control. Instead invest your energy in the positive present moment.
8. Eat breakfast like a king, lunch like a prince and dinner like a college kid with a maxed out charge card.
9. Life isn't fair, but it's still good.
10. Life is too short to waste time hating anyone. Forgive them for everything!
11. Don't take yourself so seriously. No one else does.
12. You don't have to win every argument. Agree to disagree.
13. Make peace with your past so it won't spoil the present.
14. Don't compare your life to others. You have no idea what their journey is all about.
15. No one is in charge of your happiness except you.
16. Frame every so-called disaster with these words: 'In five years, will this matter?'
17. Help the needy, be generous! Be a 'Giver' not a 'Taker'
18. What other people think of you is none of your business.
19. Time heals everything.
20. However good or bad a situation is, it will change.
21. Your job won't take care of you when you are sick. Your friends will. Stay in touch.
22. Envy is a waste of time. You already have all you need.
23. Each night before you go to bed, Pray to God and Be thankful for what you have accomplished today !
24. Remember that you are too blessed to be stressed!
25. Please forward this to everyone you care about.. I just did..
Langganan:
Postingan (Atom)