Tampilkan postingan dengan label Poleksosbud. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Poleksosbud. Tampilkan semua postingan
Selasa, 24 Januari 2012
Jaringan Yahudi di Indonesia Sudah Ada Sejak Zaman VOC
http://www.akhirzaman.info/secret-societies/101-the-builders/1792-jaringan-yahudi-di-indonesia-sudah-ada-sejak-zaman-voc.html
Rabu, 16 November 2011
Aryati dan Arloji
Aryati
Dikau mawar asuhan rembulan
Aryati
Dikau gemilang seni pujaan
Dosakah hamba mimpi berkasih dengan tuan
Ujung jarimu kucium mesra tadi malam
Dosakah hamba memuja dikau dalam mimpi
Hanya dalam mimpi
Demikian penggalan lirik dalam lagu Aryati karya Ismail Marzuki. Begitu indah dan sangat memuja kekasihnya yang bernama Aryati. Selain indah, si pemuja begitu hati-hati dalam memuja kekasihnya. Sehingga dia kuwatir memimpikan mencium ujung jari kekasihnya, menjadikannya berbuat dosa.
Coba kita bandingkan dengan lirik lagu jaman sekarang. Banyak lagu dibuat secara terburu-buru, hanya diulang-ulang dan tidak elok didengar. Walaupun tidak dipungkiri masih banyak juga lagu sekarang yang berbobot liriknya, macam lirik lagu-lagu dari Kla Project, Iwan Fals, Chandra Darusman dan lain-lain.
Mungkin karena zaman yang berbeda, maka gaya lirikpun juga berbeda. Pada zaman yang serba instant ini, maka lirikpun juga serba instant. Langsung kepada maksud tujuan, tidak ada kata perantara. Maka jaman sekarang ada istilah "nembak", yang artinya mengemukakan perasaan cinta seorang cowok kepada cewek, calon kekasihnya. Jadi sopan santun, dianggap basa-basi, bertele-tele, terlalu lama menyampaikan maksud dan tujuan.
Mulai dari menyeduh kopi sampai minta uang sogokan saja, jaman sekarang serba instant. Jika kita mengurus perpanjangan KTP, SIM dan lain-lain, petugas sudah tidak malu-malu lagi menyebut jumlah uang pelicin yang harus dibayar, agar urusan menjadi lancar. Padahal sebagai petugas dan pegawai negri, mereka di gaji negara untuk melayani kebutuhan masyarakat. Yang notabene kebutuhan masyarakat itu (KTP, SIM, Paspor dll) adalah urusan negara, agar mempermudah Pemerintah mengumpulkan data warga negaranya. Gaji mereka pun diperoleh dari pajak yang dibayar rakyat kepada negara, jadi sudah seharusnya mereka melayani masyarakat, sebagai pihak yang membayar gaji mereka. Tapi sekarang keadaan berbalik, rakyat yang harus melayani pegawai negeri. Memang gajinya tidak seberapa, tapi penghasilan dari meminta uang pelicin bisa berkali-kali lipat dari gaji resminya. Maka tidak heran jika kita lihat, gaya hidup pegawai negri begitu hebat. Kalau kita berjalan-jalan di mall pada jam kerja, sering kita lihat para pegawai negri yang masih memakai pakaian seragam resmi hilir mudik sibuk berbelanja.
Pernah, penulis makan malam dengan seorang pejabat negri ini, membicarakan proyek perusahaan yang memerlukan perizinan yang harus dilalui. Sambil menunggu hidangan datang, kami ngobrol ngalor ngidul sampai ke pembicaraan jam yang dipakai bapak pejabat tersebut. Saya sangat terkejut, mendengar harga arloji yang dipakai si pejabat itu harganya mencapai ratusan juta rupiah. Bahkan dia mempunyai koleksi yang lain harganya mencapai milyar!! Sebab katanya, arloji tersebut dibuat sangat terbatas. Hanya ada satu arloji untuk pembeli di satu negara. Jadi, katanya dengan bangga, arloji yang dimilikinya tersebut tidak bisa dimiliki oleh orang lain di Indonesia. Sebab dia, seorang pegawai negri, sudah memilikinya.....
Saya saja, sebagai seorang pegawai swasta yang menjabat jabatan yang lumayan, yang boleh dikatakan gajinya lebih tinggi dari pejabat tersebut, tidak mampu membeli arloji seharga milyaran rupiah tersebut. Tapi wajar saja, untuk mengurus izin yang akan ditanda tanganinya saja, perusahaan harus membayar milyaran rupiah agar urusan menjadi lancar. Memang sih...pajak maupun denda yang harus dibayar mahal, tapi menjadi sekian kali lebih mahal karena harus membayar uang pelicin tersebut. Sebab mereka tahu benar, jika proyek tertunda karena perizinan, ongkosnya lebih mahal lagi.
Begitulah kondisi jaman kini...
Berbuat salahpun dengan terang-terangan, minta uang pelicin tanpa basa basi dan tanpa merasa berdosa.
Bandingkan denga lirik lagu Aryati diatas, mimpi mencium ujung jari saja sudah merasa berdosa....
Sudahlah...
Mendingan saya mendengarkan lagu keroncong Aryati yang dinyanyikan Almarhum Bram Aceh....
Hanya..dalam mimpi....
Rabu, 20 Oktober 2010
Presiden, Syahrir dan Gosip
Presiden adalah jabatan tertinggi di negeri ini. Sebab negeri kita adalah Republik yang dipimpin seorang Presiden. Sudah 65 tahun usia negara kita ini yang sejak tahun 1945 diproklamirkan sebagai negara yang merdeka
Tapi baru kali ini kita memiliki Presiden yang kita pilih secara langsung. Seharusnya Presiden kita ini punya kepercayaan diri yang besar, karena dipilih langsung oleh rakyat.
Tapi entah kenapa badannya yang besar, tidak sama sebangun dengan nyalinya, tidak sama sebangun dengan pemikirannya, tidak sama sebangun dengan tindakannya.
Jauh berbeda dengan pemimpin kita terdahulu, Sutan Syahrir. Walaupun badannya kecil tapi nyali, pemikiran, visi maupun tindakannya mampu membawa Indonesia merdeka pada 17 Agustus 1945. Jika tidak ada Syahrir, mungkin Soekarno-Hatta tidak berani memproklamirkan Indonesia Merdeka, dan bisa bisa kemerdekaan Indonesia dianggap hadiah dari Jepang, sehingga kita bisa dijadikan negara boneka Jepang.
Walaupun keberaniannya, membawa dia ke penjara tanpa diadili dan wafat di negeri orang.
Entah kenapa Presiden kita gemar berbicara di podium dengan gaya penceramah, dan membeberkan berita yang belum pasti kebenarannya. Dengan mendahului dengan "katanya"
Kalau dia sebagai Presiden saja belum yakin dengan beritanya, kenapa pula hal itu disampaikan kepada rakyat secara terbuka?
Bukankah Presiden mempunyai pembantu-pembantu yang pandai, sumber intelejen yang mumpuni?
Ataukah Presiden kita ini, sudah terjangkit virus infotainment, yang gemar mengumbar gosip dan berita murahan...
Berita seperti diatas tersebut ("katanya...")tidak cuma sekali ini saja. Coba simak berita-berita yang lalu. Beliau kerap menyebut "katanya..."
Dihari Ulang Tahun Pemerintahannya yang genap setahun ini, cobalah Bapak Presiden lebih bijak dalam memilih kata dalam pidatonya ke rakyat. Jangan terlalu sering tampil untuk bicara hal yang remeh. Negara kita ini sangat luas Pak, rakyat kita ini jumlahnya besar Pak, banyak masalah besar yang menghadang didepan untuk diselesaikan.
Berhentilah bersibuk diri dengan pencitraan diri, berhentilah mengeluh, berhentilah menyalahkan orang lain dan berhentilah mengklaim keberhasilan diri.
Bekerjalah, "Sepi ing pamrih rame ing gawe"
Saya yakin, rakyat akan mendukung Bapak untuk memajukan bangsa ini dari keterpurukan multi dimensi, jika mereka merasa dipimpin oleh seorang, yang tidak saja berbadan besar, tapi juga punya pemikiran, cita-cita dan tindakan yang besar.
Jangan kuatir ada yang menggulingkan Bapak, apalagi mengkasurkan Bapak...
Selamat Ulang Tahun berkuasa ya..Pak.
Salam dari rakyat
Jakarta, 20 Oktober 2010
Marbot
Tapi baru kali ini kita memiliki Presiden yang kita pilih secara langsung. Seharusnya Presiden kita ini punya kepercayaan diri yang besar, karena dipilih langsung oleh rakyat.
Tapi entah kenapa badannya yang besar, tidak sama sebangun dengan nyalinya, tidak sama sebangun dengan pemikirannya, tidak sama sebangun dengan tindakannya.
Jauh berbeda dengan pemimpin kita terdahulu, Sutan Syahrir. Walaupun badannya kecil tapi nyali, pemikiran, visi maupun tindakannya mampu membawa Indonesia merdeka pada 17 Agustus 1945. Jika tidak ada Syahrir, mungkin Soekarno-Hatta tidak berani memproklamirkan Indonesia Merdeka, dan bisa bisa kemerdekaan Indonesia dianggap hadiah dari Jepang, sehingga kita bisa dijadikan negara boneka Jepang.
Walaupun keberaniannya, membawa dia ke penjara tanpa diadili dan wafat di negeri orang.
Entah kenapa Presiden kita gemar berbicara di podium dengan gaya penceramah, dan membeberkan berita yang belum pasti kebenarannya. Dengan mendahului dengan "katanya"
Kalau dia sebagai Presiden saja belum yakin dengan beritanya, kenapa pula hal itu disampaikan kepada rakyat secara terbuka?
Bukankah Presiden mempunyai pembantu-pembantu yang pandai, sumber intelejen yang mumpuni?
Ataukah Presiden kita ini, sudah terjangkit virus infotainment, yang gemar mengumbar gosip dan berita murahan...
Berita seperti diatas tersebut ("katanya...")tidak cuma sekali ini saja. Coba simak berita-berita yang lalu. Beliau kerap menyebut "katanya..."
Dihari Ulang Tahun Pemerintahannya yang genap setahun ini, cobalah Bapak Presiden lebih bijak dalam memilih kata dalam pidatonya ke rakyat. Jangan terlalu sering tampil untuk bicara hal yang remeh. Negara kita ini sangat luas Pak, rakyat kita ini jumlahnya besar Pak, banyak masalah besar yang menghadang didepan untuk diselesaikan.
Berhentilah bersibuk diri dengan pencitraan diri, berhentilah mengeluh, berhentilah menyalahkan orang lain dan berhentilah mengklaim keberhasilan diri.
Bekerjalah, "Sepi ing pamrih rame ing gawe"
Saya yakin, rakyat akan mendukung Bapak untuk memajukan bangsa ini dari keterpurukan multi dimensi, jika mereka merasa dipimpin oleh seorang, yang tidak saja berbadan besar, tapi juga punya pemikiran, cita-cita dan tindakan yang besar.
Jangan kuatir ada yang menggulingkan Bapak, apalagi mengkasurkan Bapak...
Selamat Ulang Tahun berkuasa ya..Pak.
Salam dari rakyat
Jakarta, 20 Oktober 2010
Marbot
Minggu, 26 September 2010
N.A.T.O
يَـٰٓأَيُّہَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفۡعَلُونَ (٢) ڪَبُرَ مَقۡتًا عِندَ ٱللَّهِ أَن تَقُولُواْ مَا لَا تَفۡعَلُونَ (٣
Wahai orang orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat
Amat besar murka/kebencian disisi Alloh jika kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.
(surat Asshof ayat 2 dan 3)
Ayat diatas merupakan peringatan keras bagi orang beriman, berupa teguran agar kita jangan terlalu banyak bicara, tapi tanpa pernah melaksanakannya.
Sebenarnya agak sinis dengan mengawali tegurannya dengan kalimat tanya: Kenapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak (pernah) kamu lakukan?
Padahal surga hanya disediakan untuk orang iman yang beramal, berbuat, melaksanakan amal sholih. Bukan hanya sekedar bicara tanpa berbuat apa - apa. Cuma jadi slogan dan alat tebar pesona dengan menampilkan citra diri yang Islami. Pakai kopiah, baju koko, jilbab modern yang dihiasi bunga dan di pilntar plintir kesana kemari sampai kepala pemakainya seperti kembang kol. Sorban penghias kepala sampai seperti ban vespa yg ditaruh diatas kepala. Atau seperti anak band sekarang sorban pun jadi hiasan leher dengan mengalungkannya seperti serbet atau alas iler saja.
Lihat saja ketika romadlon tiba, semua orang mendadak islami, menjalani puasa dengan suka ria. Undangan buka puasa bersama hampir setiap hari diterima. Tak lupa ada acara pemanis berupa kultum menjelang buka puasa, sebelum acara intinya, makan aneka makanan yang tersedia memenuhi meja makan prasmanan dihajar habis.
Para Da'i bayaran pun seakan akan panen rejeki dengan undangan kultum dimana mana. Lumayan, hanya ceramah tidak lebih dari 10 menit, bayarannya pun cukup menggiurkan plus bonus, makan gratis....
Isi ceramah? emang guwe pikirin... kata anak muda sekarang. Kalaupun ditanya kepada jama'ah yang mendengarkan, apa hikmah dari ceramah tadi....jawabannya singkat..auk ah.. lap.
Sehabis berbukapun, bukannya segera berwudlu untuk sholat maghrib, malah sibuk menghabiskan minuman yang belum sempat dinikmati tadi. Memang sangat lucu , ada orang islam yang menjalankan puasa, tapi meninggalkan sholat. Layaknya orang berpakaian baju yang indah, tapi tidak pakai celana dalam.
Bahkan baru baru ini saya menghadiri suatu acara halal bihalal, yang sangat meriah. banyak tersedia makanan pastinya, ditambah hiburan musik yang gemuruh.
Tapi anenya, ketika adzan berkumandang, waktunya sholat dhuhur tiba, malah musik tetap diteruskan, dan mushola yang tersediapun hanya diisi tidak lebih dari 5 orang, bahkan untuk khusyukpun sangat sulit, karena bisingnya suara musik.
Tragis memang, romadlon berlalu, kelakuan jahiliyahpun diteruskan kembali.
Pantaslah, teguran Alloh Subhana wa Ta'ala dalam surat AsShof diatas, bahkan ditambah ancaman, bahwa Alloh sangat murka bila kita hanya bicara tapi tidak melaksanakannya.
Karena memang surga diberikan kepada orang iman yang beramal sholih, orang iman yang melaksanakan, berbuat, tidak hanya bicara, tidak hanya berpakaian muslim atau muslimah
nan glamour.
Mungkin sayang kali, kalau dandanan make upnya luntur karena air wudlu, atau agak ribet melepaskan jilbabnya yang di untal untel kayak brokoli. Jadi sholat dhuhurnya digabung dengan sholat ashar saja.
Anehnya, ketika sholat asharpun tiba, yang sholat yang itu -itu juga orangnya.
Na'udzubillahi min dzalik...
Sejatinya orang iman dan amal sholih adalah satu set, gandengannya orang iman sudah tentu amal sholih, seperti ayat dibawah ini:
إِنَّ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّـٰلِحَـٰتِ كَانَتۡ لَهُمۡ جَنَّـٰتُ ٱلۡفِرۡدَوۡسِ نُزُلاً (١٠٧) خَـٰلِدِينَ فِيہَا لَا يَبۡغُونَ عَنۡہَا حِوَلاً۬ (١٠٨)
Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, bagi mereka adalah surga Firdaus menjadi tempat tinggal, (107) mereka kekal di dalamnya, mereka tidak ingin berpindah daripadanya. (108)
Jadi kalau ingin surga, dan mengaku Islam, marilah, kita renungkan ayat-ayat diatas. Sehingga kita bisa menjadi muslim dan muslimah yang paripurna..kaaffah...
Semoga...
Marbot
26 September 2010
Langganan:
Postingan (Atom)